“Transformasi Sistem Pangan dan Strategi Resiliensi Masyarakat Adat Papua"
Latar Belakang
Situs penelitian kami, Jayawijaya,
merupakan ibu kota Provinsi Papua Pegunungan yang secara historis menjadi pusat
peradaban bagi masyarakat pegunungan Papua serta dikenal luas karena konsumsi,
produksi, dan distribusi hasil pertaniannya hingga akhir tahun 1990-an.
Terdapat bukti kemajuan teknologi pertanian di Dataran Tinggi New Guinea
(termasuk di Jayawijaya/Wamena) berupa domestikasi pisang, ubi jalar, talas,
dan tebu yang terjadi sekitar 4000–8000 SM (Heinzpeter Znoj, 2016). Sementara
itu, beberapa peneliti menunjukkan kemajuan pengetahuan dan teknologi pertanian
bahkan hingga 10.000 tahun yang lalu. Hingga tahun 1990-an, Jayawijaya/Wamena
tetap menjadi distributor utama hasil tanaman pangan di Papua. Namun, telah
terjadi perubahan besar. Jayawijaya kini mengalami malnutrisi, kemiskinan,
kerawanan pangan, tingkat kematian ibu tertinggi, serta berbagai masalah
terkait lainnya di tengah pembangunan infrastruktur masif yang dilakukan oleh
pemerintah. Berdasarkan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2022,
Jayawijaya dikategorikan sebagai wilayah sangat rentan (prioritas satu).
Menurut Indeks Ketahanan Pangan Nasional (IKP), Jayawijaya berada pada
peringkat 403 dari 416 kabupaten/kota di Indonesia. Fakta ini sungguh
mengkhawatirkan.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apa saja factor yang mendorong kerentanan terhadap penghidupan masyarakat adat. Pemahaman terhadap factor tersebut berkontribusi dalam pemetaan sumber resiliensi masyarakat. Penelitian ini pertama-tama akan mendokumentasikan pengetahuan, nilai-nilai, praktik, dan praktik agroekologi masyarakat adat. Selanjutnya, kami akan mengidentifikasi factor penyebab kerentanan saat ini dengan menginvestigasi dimensi budaya, sosial-agroekologi, dan ekonomi politik di tingkat akar rumput hingga struktural. Penelitian ini juga akan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi pada perubahan praktik agroekologi dan dampaknya terhadap penghidupan. Selanjutnya, penelitian ini akan menguraikan sumber resiliensi komunitas Hubula. Dengan dokumentasi dan pemahaman yang lebih baik tentang pengetahuan masyarakat adat mengenai praktik konservasi dan negosiasi yang inklusif, hingga tantangan politik berupa marginalisasi praktik dan kebijakan kelembagaan, dapat berkontribusi untuk menjembatani pengetahuan masyarakat adat dan pengetahuan ilmiah formal untuk sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif.
Tujuan
1. Untuk
memberikan analisis kritis tentang sistem pertanian masyarakat adat Hubula,
perubahannya, dan dampaknya terhadap mata pencaharian mereka. Dokumentasi ini
akan bermanfaat bagi masyarakat dalam memetakan kekuatan mereka di masa lalu,
sekarang, dan di masa depan.
2. Untuk
memetakan sumber-sumber ketahanan masyarakat adat dan strategi mereka dalam
menghadapi kerawanan pangan.
3. Untuk
memberikan masukan teknis pada desain dokumen perencanaan tata ruang oleh
pemerintah. Temuan akan digunakan untuk advokasi, khususnya yang berkaitan
dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Pendek) dan RPJP (Rencana Pembangunan
Jangka Panjang).
Koordinator
Elvira Rumkabu dan Septer
Manufandu
Anggota Tim
Ferawati Runtuboy
Sumiyati Tuhuteru
Kilitus Wetipo
Piter Marian
Status
Sedang berjalan
Tahun Penyelesaian
2026
Pemberi Dana Proyek
Agroecology Fund
Topik
Agroekologi, Kerentanan, Penghidupan
dan Resiliensi
Wilayah Studi
Kabupaten Jayawijaya,
Provinsi Papua Pegunungan