“RECLAIM Melalui Penataan Ulang Strategi Gerakan Sipil di Papua”
Latar Belakang
Politik
identitas berbasis agama, adat atau etnis memainkan peran penting dalam
membentuk perilaku politik pemilih. Penentuan kepemimpinan nasional, daerah dan
anggota legislatif seringkali didasarkan pada sentimen berbasis identitas
tersebut. Fenomena mayoritas-minoritas menjadi trend dan sering dipakai sebagai
instrumen legitimasi kekuasaan. Fenomena ini menjadi lumrah dan hampir terjadi
di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pemilihan
Gubernur dan Wakil Gubernur di Provinsi Papua tahun 2024 memperlihatkan dinamika politik baru dimana politik identitas
digunakan secara terbuka untuk mempengaruhi pilihan politik masyarakat. Pada Pilkada
sebelumya, isu identitas berbasis keagamaan hampir nyaris tidak terdengar, namun pilkada 2024
menjadi faktor dominan. Pilkada 2024 menghadirkan dua
pasangan calon, Benhur Tomi Mano-Yermias Bisai (BTM-YB, kemudian berganti menjadi BTM-Constant Karma/ BTM-CK)
dan pasangan lawan Mathius
D Fakhiri dan Aryoko Rumaropen (Mari-Jo).
Secara politik,
kasus ini menarik karena distribusi dukungan partai pendukung yang sangat tidak
berimbang. Dari total 18 partai yang ada di Provinsi Papua, Mari-Jo diusung
oleh koalisi 15 partai politik, terdiri dari partai berbasis Islam dan
sekuler-nasionalis (Partai Golkar, Nasdem, Demokrat, PKS, Perindo, PAN, PKB,
Gerindra, PSI, PPP, Buruh, Gelora, Hanura, Garuda, PBB), sedangkan pasangan
BTM-YB/CK hanya diusing 1 partai
sekuler-nasionalis yaitu PDIP. 2 partai netral secara administratif. Riset ini juga menarik karena terdapat fragmentasi pilihan politik pada institusi
sosial seperti agama, adat dan paguyubun berbasis suku dan etnis non-Papua. Denominasi
gereja-gereja mengambil sikap politik yang berbeda, begitu juga masyarakat atau
dewan adat di Papua dan paguyuban berbasis etnis non-Papua.
Riset ini mengajukan beberapa
pertanyaan kunci: 1) Mengapa gereja, lembaga adat, paguyuban berbasis
suku-etnis memilih terlibat dan memberikan dukungan pada pemilihan
Gubernur Papua tahun 2024? 2) Dalam bentuk apa gereja, adat dan paguyuban
memberikan dukungan dalam pemilihan Gubernur Papua? Faktor-faktor apa yang
menyebabkan terjadinya fragmentasi pilihan politik?
Tujuan
1.
Menganalisa peran politik identitas dan fragmentasi terhadap pilihan politik
dalam pilkada 2024
2.
Mengetahui sejauh mana peran dan bentuk dukungan Gereja, Adat, Paguyuban
berbasis suku-etnis
3.
Memetakan faktor-faktor yang menyebabkan fragmentasi pilihan politik
Koordinator
Elvira Rumkabu dan Septer Manufandu
Peneliti
Septer
Manufandu
Petrus
K Farneubun
Elvira
Rumkabu
Muliadi Mochtar
Status
Sedang berjalan
Tahun Penyelesaian
2026
Pemberi Dana Proyek
Pendanaan Mandiri
Topik
Politik
Identitas, Institusi Sosial, PILKADA
Wilayah Studi
Provinsi Papua