“RECLAIM Melalui Penataan Ulang Strategi Gerakan Sipil di Papua”
Latar Belakang
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia
menghadapi kemunduran demokrasi yang semakin nyata. Proses ini ditandai
oleh penyempitan ruang sipil, melemahnya prinsip negara hukum, serta
penggunaan instrumen dan prosedur demokrasi secara formal untuk
mengonsolidasikan kekuasaan politik elit. Dalam praktiknya, demokrasi kian
terlepas dari substansi partisipasi bermakna, akuntabilitas publik, dan
perlindungan hak-hak warga negara.
Namun, pembacaan atas kemunduran
demokrasi di Indonesia masih cenderung berfokus pada wilayah Barat, khususnya
Jakarta, yang kerap dijadikan barometer utama. Padahal, dampak kemunduran
demokrasi tidak terjadi secara merata. Tanah Papua merupakan salah satu wilayah
yang paling merasakan konsekuensi tersebut, karena persoalan demokrasi, hak
asasi manusia, dan ketidakadilan struktural telah lama saling bertaut dan
diperparah oleh sejarah kekerasan, marginalisasi politik, serta eksploitasi
sumber daya alam.
Kondisi tersebut semakin diperparah
oleh tingginya kerentanan terhadap pelanggaran HAM. Pembela HAM, jurnalis,
aktivis lingkungan, tokoh adat, serta organisasi masyarakat sipil lokal kerap
menghadapi kriminalisasi, intimidasi, dan stigmatisasi. Dalam konteks ini,
ruang sipil di Papua tidak hanya menyempit, tetapi juga menjadi ruang yang
berisiko bagi mereka yang berupaya mempertahankan hak, martabat, dan kebenaran.
Sebagai lembaga think tank yang
berbasis di Papua, Papua Democratic Institute (PD Institute) memandang perlunya
intervensi yang cepat, kontekstual, dan berbasis gerakan masyarakat sipil untuk
merespons dinamika tersebut. Riset ini bertujuan memetakan kembali
kekuatan gerakan masyarakat sipil, isu-isu yang diperjuangkan, tingkat dan
bentuk intervensi, serta lanskap dan infrastruktur advokasi termasuk pendekatan
dan strategi yang digunakan dalam merespons perubahan di tingkat subnasional.
Analisis atas konteks dan dinamika ini selanjutnya akan digunakan sebagai dasar
untuk merekomendasikan strategi advokasi masyarakat sipil yang lebih
kontekstual dan komprehensif, sekaligus menjadi peta jalan dalam memperkuat
daya tahan dan konsolidasi masyarakat sipil di Papua.
Tujuan
1) Menghasilkan
analisis konteks dan dinamika Papua yang tajam dan updated melalui
pendekatan political economy analysis (PEA) sebagai dasar strategi
gerakan sipil
2) Melakukan
analisis terhadap pendekatan, resiko, resiliensi, dan strategi advokasi yang
dijalankan oleh gerakan masyarakat sipil di Tanah Papua
3) Mendesign
strategi advokasi masyarakat sipil di Papua yang lebih sistemik dan kontekstual
dalam merespon berbagai isu dan dinamika
Peneliti
Elvira Rumkabu
Septer Manufandu
Petrus K Farneubun
Kilitus Wetipo
Status
Sedang berjalan
Tahun Penyelesaian
2026
Pemberi Dana Proyek
Yayasan Humanis
Topik
Ruang Sipil, Gerakan Masyarakat Sipil, Demokrasi, Advokasi
Wilayah Studi
Tanah Papua