WAMENA – Focus Group Discussion (FGD) partisipatif yang melibatkan Masyarakat Adat digelar selama dua hari, mulai 20 hingga 21 Agustus 2026 di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan penelitian yang sedang dilakukan oleh PD-Institute : “Transformasi Sistem Pangan dan Strategi Resiliensi Masyarakat Hubula di Lembah Baliem”. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah memastikan perlindungan hak masyarakat adat melalui penelitian partisipatif mengenai sistem pangan dan pertanian tradisional, guna memperkuat narasi masyarakat adat dan menjadi instrumen advokasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
Untuk kebutuhan riset tersebut, PD-Institute memilih lokasi riset di Kabupaten Jayawijaya, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan. Pemilihan lokasi ini signifikan karena kawasan pegunungan Papua telah memiliki pengetahuan pertanian dan teknologi maju sejak 10.000 tahun lalu, bahkan pada dekade 1990-an Jayawijaya menjadi salah satu distributor hasil pertanian ke seluruh kabupaten di Tanah Papua. Namun berbagai dinamika menunjukkan wilayah ini telah banyak berubah, terutama terkait situasi penghidupan masyarakat.
Berdasarkan indikator biofisik maupun sosial budaya, riset ini difokuskan pada tiga distrik, yaitu Hubikosi, Kurulu, dan Wadangku. Dengan pendalaman di ketiga lokasi tersebut, penelitian diharapkan dapat melihat persamaan dan perbedaan praktik pertanian tradisional, pengetahuan masyarakat, sumber kerentanan, serta strategi resiliensi masyarakat adat Hubula.
Selama dua hari pelaksanaan, diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan Narasumber dari tiga distrik lokus penelitian, yaitu Distrik Kurulu, Distrik Hubikosi, dan Distrik Wadangku. Setiap distrik diwakili oleh 10 orang narasumber, terdiri dari 1 Kepala Distrik, 3 Tokoh Perempuan Pelaku Ekonomi, 3 Tokoh Adat, dan 3 Pemuda/Pemudi, sehingga total keseluruhan narasumber di tiga distrik berjumlah 30 orang. Agenda berfokus pada perubahan sistem pertanian dari masa lalu hingga saat ini, jenis tanaman yang dahulu dan sekarang ditanam, perubahan varietas hipere (ubi jalar) di wilayah tersebut, perubahan pola makan Masyarakat, perubahan lingkungan yang dirasakan Masyarakat, perubahan hubungan sosial dalam Masyarakat, faktor-faktor yang menyebabkan kerentanan pangan dan penghidupan, strategi yang digunakan masyarakat dalam menghadapi perubahan, peran perempuan dan laki-laki dalam sistem pangan.
Selain itu riset ini dimaksudkan untuk memahami gambaran umum kondisi masyarakat di Hubikosi, Wadangku, dan Kurulu terkait sistem pangan, pertanian, dan dinamika sosial, serta menangkap perbedaan perspektif antar-kelompok (perempuan, laki-laki, Adat, dan pemuda).
Penelitian ini dilakukan oleh PD-Institute dan Dewan Adat Papua serta didukung sepenuhnya oleh Agroecology Fund.
Selama dua hari pelaksanaan, diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan Narasumber dari tiga distrik lokus penelitian, yaitu Distrik Kurulu, Distrik Hubikosi, dan Distrik Wadangku. Setiap distrik diwakili oleh 10 orang narasumber, terdiri dari 1 Kepala Distrik, 3 Tokoh Perempuan Pelaku Ekonomi, 3 Tokoh Adat, dan 3 Pemuda/Pemudi, sehingga total keseluruhan narasumber di tiga distrik berjumlah 30 orang. Agenda berfokus pada perubahan sistem pertanian dari masa lalu hingga saat ini, jenis tanaman yang dahulu dan sekarang ditanam, perubahan varietas hipere (ubi jalar) di wilayah tersebut, perubahan pola makan Masyarakat, perubahan lingkungan yang dirasakan Masyarakat, perubahan hubungan sosial dalam Masyarakat, faktor-faktor yang menyebabkan kerentanan pangan dan penghidupan, strategi yang digunakan masyarakat dalam menghadapi perubahan, peran perempuan dan laki-laki dalam sistem pangan.
Selain itu riset ini dimaksudkan untuk memahami gambaran umum kondisi masyarakat di Hubikosi, Wadangku, dan Kurulu terkait sistem pangan, pertanian, dan dinamika sosial, serta menangkap perbedaan perspektif antar-kelompok (perempuan, laki-laki, Adat, dan pemuda).
Penelitian ini dilakukan oleh PD-Institute dan Dewan Adat Papua serta didukung sepenuhnya oleh Agroecology Fund.
